- Saling mencontek sesama teman
- pihak sekolah membentuk tim UN (dalam hal negatif)
- guru mengisi jawaban UN (karena pihak sekolah) dan kemudian menyebarkan ke siswa
- bukan hanya guru tetapi lembaga "bimbel" pun ikut bantu memberi kunci jawaban lewat sms
- para siswa menyiapkan "sesajen" untuk para pengawas (yang diharapkan pengawas lebih konsen ke makanan)
- pengawas malah bilang "silahkan mencontek, lempar-lempar kertas asal jangan kena muka bapak" sambil ketawa. kemudian di amiin-i oleh para siswa
- terakhir, setelah jawaban terkumpul pihak sekolah melihat jawaban mereka dan apabila banyak salahnya, dan kemungkinan tidak lulus maka pihak sekolah menghapus jawabannya dan menggantinya dengan jawaban yang benar.
Please support us by Click this adsense
UN oh UN....
Kisah Nyata: Aku Hanya Ingin Bersekolah
Inilah kisah nyata yang di alami oleh teman kakak saya. Cerita tentang sebuah perjuangan, cerita tentang getirnya kehidupan dan cerita tentang keyakinan.
Katakanlah Desi adalah tokoh yang saya ingin ceritakan. Desi adalah anak pertama dari seorang pekerja honorer (sang ayah), ibu saya (saya disini adalah Desi) adalah seorang ibu rumah tangga. Saya adalah anak pertama dari 9 bersaudara.
Saya adalah seorang manusia yang menginginkan bisa belajar dengan baik tak usah muluk-muluk punya mobil, kost mewah, rumah mewah bisa makan saja saya sudah merasa untung. Suatu hari saya diterima untuk sekolah di suatu universitas terkenal dibandung katakanlah universitas dipati ukur di bandung, saya masuk hanya bermodalkan sebuah kata "Tak Menyerah" saya tak punya apapun untuk bisa hidup di bandung. Masuklah saya di universitas tersebut, Saya tak punya uang, bahkan buat makan pun susahnya minta ampun yang lebih ironis saya tidak punya kostan.
Saya tidak punya kostan, yang saya lakukan sehari-hari adalah numpang sana-numpang sini sudah pahit rasanya di caci maki sana-sini karena numpang. Sobat Desi adalah perempuan, hidup memang tak pernah kenal laki-laki ataupun perempuan, inilah hidup. Hidup pahit Desi selama 4 tahun di universitas dipatiukur tersebut berakhir manis Desi dapat nilai yang baik.
Inilah perjuangan Desi tak pernah puas, tak pernah menyesal dan tak pernah kapok. Mungkin beberapa orang berkata sudah lulus S-1, ya udah tinggal cari kerja dan hiduplah bersenang-senang. Tapi Desi tidak, dia melanjutkan belajarnya di sebuah Universitas atau Institut terkenal katakanlah "Intitut Negeri Bandung" dia belajar disana, inilah pertemuan pertama Desi dengan Kakak saya, kakak saya bercerita Desi tubuhnya kurus kering, jadwal makannya sobat dia makan pagi hanya dengan sebungkus roti yang harganya Rp. 1200,- jadwal keduanya makan siang jam 2 dan tentu Desi cuman makan 2 kali sehari.
Dia mengais rejeki dengan mengajar anak-anak sekolah, mungkin harusnya cukup bagi dia tapi tunggu dulu, Desi memiliki tanggungan lain yaitu adik-adiknya. Hidup memang tak selamanya manis tapi ini terlalu pahit. pada suatu hari kakak saya berniat ngajak makan dan mencoba untuk mentraktirnya tapi Desi bukan pengemis, Desi boleh miskin tapi Desi bukan pengemis. Harga diri yang tingginya itu justru yang membuat dia terus survive.
Suatu kisah, dia mengerjakan Thesis tapi bagaimana cara dia mengerjakannya. Cara dia, pertama dia tidur selalu lebih awal dari yang lain sambil berkata pada temannya "boleh pinjam laptopnya" kata Desi ke temannya (Desi numpang di teman tersebut), kata temannya "tapi Des, saya juga perlu" dan Desi berkata "Iya, saya nanti pinjamnya setelah kmu selesai" dia kemudian tidur dan mengerjakan tugas-tugasnya sangat larut malam atau bahkan pagi hari.
Kisah berikutnya Desi, Desi tentu tidak punya Laptop dia hanya punya Flashdisk dan itu satu-satunya. Bagaimana perasaan anda ketika Desi bilang "Flashdisk-ku kena virus, Thesis aku ilang" ? Cobaan tak pernah berhenti sampai situ.
SNMPTN pun tiba, Adik Desi pun kena giliran untuk kuliah, adiknya bertanya ke Desi " Mbak aku gak usah kuliah aja ya" tapi coba pikir apa yang Desi katakan "Kuliah aja de, jangan pikirin yang lain". Sobat bagaimana adiknya bisa hidup? bila kakaknya (Desi) saja masih numpang, lalu adenya mau dimana? Sobat Adenya numpang juga di asrama temannya (kamar asrama tersebut bukan diperuntukan Desi dan adenya, tetapi untuk temannya).
Inilah Hidup, Desi Harus Berani mengahadapi kenyataan Hidup yang pahit. Belum tentu kita mampu hidup layaknya Desi, kita mungkin sudah menyerah jauh-jauh hari.
Seperti Desi "Jangan Pernah Menyerah", Desi dapat bertahan di arena kehidupan yang keras karena tak pernah menyerah.
"Jangan Putus Asa" Selalu ada jalan kalau kita percaya dan berusaha.
"Hiduplah di telapak kakimu sendiri" jangan tegantung sama orang lain.
-Desi masih kuliah S-2, di Institut ..... Bandung suatu universitas terkenal di Indonesia yang letaknya di Bandung, kita dukung terus beliau Semoga sukses, teruslah bertahan dan jangan pernah menyerah -
Share With Me
Cita-Citaku Kandas Oleh Sekolahku

Oh Tuhan Lihatlah Cita-citaku yang begitu tinggi saya ingin jadi seorang Dokter, Dokter adalah sebuah cita-cita mulia oh Tuhan Cita-Citaku kandas Oleh Sekolah S*** (SMU Negeri ****).
Saya adalah partisipan sekolah tersebut yang tidak punya kekuasaan apapun untuk mengubah sebuah peraturan mulia sekolah. Saya hanya seorang manusia biasa yang ingin mengubah batu menjadi debu.
Kepada para pembaca yang mulia, saya akan menceritakan AAR ini. Inilah ceritanya:
Berangkat dari masa kecilku, ketika kecil saya pernah mengalami hal yang aneh yaitu kaki saya terkena suatu penyakit kulit, kemudian berangkatlah ke Dokter dengan ayah saya. Anak kecil seorang pedagang ini melihat kaki dia tak disentuh dokter sama sekali tetapi harus membayar 200 rb (akhirnya sembuh) dan Wow anak kecil yang masih lugu pun tertarik untuk menjadi seorang dokter. Mungkin ini alasan sepele tapi karena alasan inilah saya selalu menyempatkan diri untuk membaca buku kedokteran. Saya ingin ke kedokteran UGM.
Akhirnya masa SMA pun tiba, saya masuk ke dunia sekolah tepatnya SMUN *** . Saya belajar dengan suasana baru dengan peraturan-peraturan mulia yang mengungkung kami. Sobat inilah masa yang menentukan hidupku (menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidupku) yaitu ketika saya naik kelas 2 sma sekolah, di masa itu sekolah menentukan apakah saya masuk IPA atau IPS. Di masa itu sekolahku menetapkanku masuk IPS, saya kaget dan bertanya bagaimana dengan cita-citaku? (dokter perlu ilmu2x dasar dari IPA)
Sobat, Inilah yang ingin saya ceritakan.
Apakah pantas sekolah memotong harapan anak untuk mencapai cita-citanya? jika alasannya adalah
- Kemanakan guru IPS kalo semua pengen ke IPA , sobat itulah salah satu alasan mereka. IPS atau IPA sama saja bagiku tapi sobat sekolah didirikan adalah untuk muridnya. Sekolah ada untuk murid (prioritas utama) bukan untuk guru jadi tentulah guru yang menyesuaikan dengan murid.
- Murid tidak mendekat ke wali kelas, sobat buat apa kita deket sama wali kelas? apakah adil menentukan masuk IPA atau IPS berdasarkan mendekat atau ga mendekatnya ke wali kelas? kalo dibandingkan dengan cita-cita pentingan mana ya?
- Jumlah kuota untuk IPA 6 kelas dan IPS 2 kelas, sobat itu adalah peraturan sekolah, tapi sobat tak pernah ada peraturan apapun yang mengatur hal tersebut. Kalaupun itu sebuah peraturan, bukankah kita juga punya masalah di DPT pada pemilu ini karena terbentur Undang-undang tapi toh kita juga bisa mengubahnya oleh mahkamah konstitusi. Apalagi peraturan yang mengungkung seperti itu? dibuat oleh sekolah lagi?
- Satu kelas kan 40 orang (artinya 1 guru 40 siswa) jadi kalo lebih kan melanggar peraturan dirjen, dirjen yang mana dan no berapa? aduh lupa lagi, itupun merupakan jawaban mereka untuk lari dari masalah. Pak itu dulu sekarang ada peraturan baru yaitu PP no.74 2008 tentang guru yang berisi rasio guru yaitu 1 guru 20 orang siswa. Jadi kalo sudah 40 orang (disana 1 kelas 40 orang) itu kan salah jadi klo 41 atau 42 kan tetep salah. Jadi menurut saya tetep dong bukan menjadi alasan utamanya.
- Nilai? jika alasannya adalah nilai ko aneh ya, ada nilai temenku yang lebih kecil daripada nilaiku ko bisa masuk IPA ya (apa dekat dengan wali kelas ya???) dan tetap menurut saya adalah minat yang utama. Coba bayangkan jika kmu disuruh melakukan sesuatu tetapi kmu tidak suka, apa yang akan kmu lakukan?
- Bakat, bakat itu dinilai berdasarkan psikotes bukan oleh nilai sekolah dan psikotesku nunjukin ke IPA ko.
Saya masih tetep pengen ke kedokteran UGM!!! Tolonglah saya???
Semoga Tulisan sederhana ini bisa membuka mata kita semua.
Share With Me
