Slideshow

Please support us by Click this adsense

Showing posts with label Kisah nyata. Show all posts
Showing posts with label Kisah nyata. Show all posts

UN oh UN....

Let's Share...

Apa kabarnya UN di Indonesia sekarang?
Pemerintah dalam rangka memajukan Indonesia dengan UN yang syarat kelulusannya terus meningkat. Maksud UN baik yaitu membuat anak-anak SD,SMP dan SMA belajar dengan giat. Niat ini rasa-rasanya jauh dari kenyataannya, Coba tengok berita di TV sekarang kiri dan kanan terdapat banyak kecurangan dalam UN dari mulai siswa yang saling mencontek, dari guru yang bantu muridnya untuk buat jawaban sampai kunci jawabannya sendiri bocor.

Saya ingin berbagi kisah dalam blog ini, ini kisah nyata tentang kecurangan UN di salah satu sekolah di Indonesia. Tak perlu sebut nama sekolahnya lah, takutnya malah beribet toh di sekolah dekat para pembacapun mungkin sama. Inilah kisahnya.


Di suatu sekolah antah berantah hiduplah seorang perempuan mari kita sebut dia Bunga. Bunga yang cantik itu ikut suatu organisasi ke agamaan, sebelum UN ada suatu pertemuan keagamaan disana, pertemuan itu bilang bahwa anggotanya jangan sampai mencontek, karena mencontek salah dan tentu saja, tidak ada yang bisa membenarkannya bahwa mencontek itu benar.

Setelah beberapa hari usai pertemuan tersebut, di depan kelas berdirilah seorang guru, seorang guru yang gagah dan juga berwibawa tapi tebak apa yang dia bilang untuk menghadapi UN tersebut "Kalian bekerja samalah jangan egois nanti (di UN), toh demi kepentingan kalian juga dan untuk mengharumkan sekolah, terus anak-anak yang ikut keagamaan jangan munafiklah, sekali-kali mencontek, kalau udah ga lulus baru tau rasa nanti". Pihak sekolah memang agak sensitif ma organisasi keagamaan itu karena tahun kemarin ada salah satu anggota organisasi yang katanya "jujur" di UN yang akhirnya tidak lulus UN.

Ok, itu kalau kita lihat dari pihak organisasi keagamaan dan juga guru plus sekolah. Muridnya gimana ya???
Salah satu teman kelasnya bunga yang kebetulan KM (ketua murid) berdiri pula di depan kelas dan menginstruksikan untuk bekerja sama di UN nanti dengan nada semangat yang menggebu-gebu dia bilang "Allahu akbar" untuk menyemangati temen sekelas lain untuk mencontek.
Sang Bunga pun ragu, dan tibalah waktu UN. Inilah realitas UN di negeri antah berantah, anak-anak saling mencontek. Ini dia list yang mereka kerjakan :
  1. Saling mencontek sesama teman
  2. pihak sekolah membentuk tim UN (dalam hal negatif)
  3. guru mengisi jawaban UN (karena pihak sekolah) dan kemudian menyebarkan ke siswa
  4. bukan hanya guru tetapi lembaga "bimbel" pun ikut bantu memberi kunci jawaban lewat sms
  5. para siswa menyiapkan "sesajen" untuk para pengawas (yang diharapkan pengawas lebih konsen ke makanan)
  6. pengawas malah bilang "silahkan mencontek, lempar-lempar kertas asal jangan kena muka bapak" sambil ketawa. kemudian di amiin-i oleh para siswa
  7. terakhir, setelah jawaban terkumpul pihak sekolah melihat jawaban mereka dan apabila banyak salahnya, dan kemungkinan tidak lulus maka pihak sekolah menghapus jawabannya dan menggantinya dengan jawaban yang benar.

Sang Bunga, tetaplah manusia. Terpaan anginnya terlalu kencang, teman-temannya terlalu baik dengan selalu membantunya memberikan jawaban lengkap di secarik kertas  "Bunga udah selesai, ini kuncinya". Bunga yang menghadapi ini luluh pula akhirnya bukan hanya karena temannya yang "terlalu baik" tetapi Bunga memang kesulitan dalam UN. Seorang Bunga-pun akhirnya menyerah juga, layaknya sebuah judul reality show "Satu lawan Banyak" susah untuk bisa bertahan. UN oh UN... nasibmu kini 

Share With Me

Kisah Nyata: Aku Hanya Ingin Bersekolah

Let's Share...

Inilah kisah nyata yang di alami oleh teman kakak saya. Cerita tentang sebuah perjuangan, cerita tentang getirnya kehidupan dan cerita tentang keyakinan.

Katakanlah Desi adalah tokoh yang saya ingin ceritakan. Desi adalah anak pertama dari seorang pekerja honorer (sang ayah), ibu saya (saya disini adalah Desi) adalah seorang ibu rumah tangga. Saya adalah anak pertama dari 9 bersaudara.

Saya adalah seorang manusia yang menginginkan bisa belajar dengan baik tak usah muluk-muluk punya mobil, kost mewah, rumah mewah bisa makan saja saya sudah merasa untung. Suatu hari saya diterima untuk sekolah di suatu universitas terkenal dibandung katakanlah universitas dipati ukur di bandung, saya masuk hanya bermodalkan sebuah kata "Tak Menyerah" saya tak punya apapun untuk bisa hidup di bandung. Masuklah saya di universitas tersebut, Saya tak punya uang, bahkan buat makan pun susahnya minta ampun yang lebih ironis saya tidak punya kostan.

Saya tidak punya kostan, yang saya lakukan sehari-hari adalah numpang sana-numpang sini sudah pahit rasanya di caci maki sana-sini karena numpang. Sobat Desi adalah perempuan, hidup memang tak pernah kenal laki-laki ataupun perempuan, inilah hidup. Hidup pahit Desi selama 4 tahun di universitas dipatiukur tersebut berakhir manis Desi dapat nilai yang baik.

Inilah perjuangan Desi tak pernah puas, tak pernah menyesal dan tak pernah kapok. Mungkin beberapa orang berkata sudah lulus S-1, ya udah tinggal cari kerja dan hiduplah bersenang-senang. Tapi Desi tidak, dia melanjutkan belajarnya di sebuah Universitas atau Institut terkenal katakanlah "Intitut Negeri Bandung" dia belajar disana, inilah pertemuan pertama Desi dengan Kakak saya, kakak saya bercerita Desi tubuhnya kurus kering, jadwal makannya sobat dia makan pagi hanya dengan sebungkus roti yang harganya Rp. 1200,- jadwal keduanya makan siang jam 2 dan tentu Desi cuman makan 2 kali sehari.

Dia mengais rejeki dengan mengajar anak-anak sekolah, mungkin harusnya cukup bagi dia tapi tunggu dulu, Desi memiliki tanggungan lain yaitu adik-adiknya. Hidup memang tak selamanya manis tapi ini terlalu pahit. pada suatu hari kakak saya berniat ngajak makan dan mencoba untuk mentraktirnya tapi Desi bukan pengemis, Desi boleh miskin tapi Desi bukan pengemis. Harga diri yang tingginya itu justru yang membuat dia terus survive.

Suatu kisah, dia mengerjakan Thesis tapi bagaimana cara dia mengerjakannya. Cara dia, pertama dia tidur selalu lebih awal dari yang lain sambil berkata pada temannya "boleh pinjam laptopnya" kata Desi ke temannya (Desi numpang di teman tersebut), kata temannya "tapi Des, saya juga perlu" dan Desi berkata "Iya, saya nanti pinjamnya setelah kmu selesai" dia kemudian tidur dan mengerjakan tugas-tugasnya sangat larut malam atau bahkan pagi hari.

Kisah berikutnya Desi, Desi tentu tidak punya Laptop dia hanya punya Flashdisk dan itu satu-satunya. Bagaimana perasaan anda ketika Desi bilang "Flashdisk-ku kena virus, Thesis aku ilang" ? Cobaan tak pernah berhenti sampai situ.

SNMPTN pun tiba, Adik Desi pun kena giliran untuk kuliah, adiknya bertanya ke Desi " Mbak aku gak usah kuliah aja ya" tapi coba pikir apa yang Desi katakan "Kuliah aja de, jangan pikirin yang lain". Sobat bagaimana adiknya bisa hidup? bila kakaknya (Desi) saja masih numpang, lalu adenya mau dimana? Sobat Adenya numpang juga di asrama temannya (kamar asrama tersebut bukan diperuntukan Desi dan adenya, tetapi untuk temannya).

Inilah Hidup, Desi Harus Berani mengahadapi kenyataan Hidup yang pahit. Belum tentu kita mampu hidup layaknya Desi, kita mungkin sudah menyerah jauh-jauh hari.

Seperti Desi "Jangan Pernah Menyerah", Desi dapat bertahan di arena kehidupan yang keras karena tak pernah menyerah.

"Jangan Putus Asa" Selalu ada jalan kalau kita percaya dan berusaha.

"Hiduplah di telapak kakimu sendiri" jangan tegantung sama orang lain.

-Desi masih kuliah S-2, di Institut ..... Bandung suatu universitas terkenal di Indonesia yang letaknya di Bandung, kita dukung terus beliau Semoga sukses, teruslah bertahan dan jangan pernah menyerah -

Terimakasih...
Semoga berguna

Share With Me

Cita-Citaku Kandas Oleh Sekolahku

Let's Share...

Inilah sebuah kisah nyata yang dialami oleh teman adikku yang berinisial AAR.
Oh Tuhan Lihatlah Cita-citaku yang begitu tinggi saya ingin jadi seorang Dokter, Dokter adalah sebuah cita-cita mulia oh Tuhan Cita-Citaku kandas Oleh Sekolah S*** (SMU Negeri ****).

Saya adalah partisipan sekolah tersebut yang tidak punya kekuasaan apapun untuk mengubah sebuah peraturan mulia sekolah. Saya hanya seorang manusia biasa yang ingin mengubah batu menjadi debu.

Kepada para pembaca yang mulia, saya akan menceritakan AAR ini. Inilah ceritanya:

Berangkat dari masa kecilku, ketika kecil saya pernah mengalami hal yang aneh yaitu kaki saya terkena suatu penyakit kulit, kemudian berangkatlah ke Dokter dengan ayah saya. Anak kecil seorang pedagang ini melihat kaki dia tak disentuh dokter sama sekali tetapi harus membayar 200 rb (akhirnya sembuh) dan Wow anak kecil yang masih lugu pun tertarik untuk menjadi seorang dokter. Mungkin ini alasan sepele tapi karena alasan inilah saya selalu menyempatkan diri untuk membaca buku kedokteran. Saya ingin ke kedokteran UGM.

Akhirnya masa SMA pun tiba, saya masuk ke dunia sekolah tepatnya SMUN *** . Saya belajar dengan suasana baru dengan peraturan-peraturan mulia yang mengungkung kami. Sobat inilah masa yang menentukan hidupku (menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidupku) yaitu ketika saya naik kelas 2 sma sekolah, di masa itu sekolah menentukan apakah saya masuk IPA atau IPS. Di masa itu sekolahku menetapkanku masuk IPS, saya kaget dan bertanya bagaimana dengan cita-citaku? (dokter perlu ilmu2x dasar dari IPA)

Sobat, Inilah yang ingin saya ceritakan.
Apakah pantas sekolah memotong harapan anak untuk mencapai cita-citanya? jika alasannya adalah
  • Kemanakan guru IPS kalo semua pengen ke IPA , sobat itulah salah satu alasan mereka. IPS atau IPA sama saja bagiku tapi sobat sekolah didirikan adalah untuk muridnya. Sekolah ada untuk murid (prioritas utama) bukan untuk guru jadi tentulah guru yang menyesuaikan dengan murid.
  • Murid tidak mendekat ke wali kelas, sobat buat apa kita deket sama wali kelas? apakah adil menentukan masuk IPA atau IPS berdasarkan mendekat atau ga mendekatnya ke wali kelas? kalo dibandingkan dengan cita-cita pentingan mana ya?
  • Jumlah kuota untuk IPA 6 kelas dan IPS 2 kelas, sobat itu adalah peraturan sekolah, tapi sobat tak pernah ada peraturan apapun yang mengatur hal tersebut. Kalaupun itu sebuah peraturan, bukankah kita juga punya masalah di DPT pada pemilu ini karena terbentur Undang-undang tapi toh kita juga bisa mengubahnya oleh mahkamah konstitusi. Apalagi peraturan yang mengungkung seperti itu? dibuat oleh sekolah lagi?
  • Satu kelas kan 40 orang (artinya 1 guru 40 siswa) jadi kalo lebih kan melanggar peraturan dirjen, dirjen yang mana dan no berapa? aduh lupa lagi, itupun merupakan jawaban mereka untuk lari dari masalah. Pak itu dulu sekarang ada peraturan baru yaitu PP no.74 2008 tentang guru yang berisi rasio guru yaitu 1 guru 20 orang siswa. Jadi kalo sudah 40 orang (disana 1 kelas 40 orang) itu kan salah jadi klo 41 atau 42 kan tetep salah. Jadi menurut saya tetep dong bukan menjadi alasan utamanya.
  • Nilai? jika alasannya adalah nilai ko aneh ya, ada nilai temenku yang lebih kecil daripada nilaiku ko bisa masuk IPA ya (apa dekat dengan wali kelas ya???) dan tetap menurut saya adalah minat yang utama. Coba bayangkan jika kmu disuruh melakukan sesuatu tetapi kmu tidak suka, apa yang akan kmu lakukan?
  • Bakat, bakat itu dinilai berdasarkan psikotes bukan oleh nilai sekolah dan psikotesku nunjukin ke IPA ko.
Adakah alasan yang cukup kuat untuk menggulingkan cita-cita saya???
Saya masih tetep pengen ke kedokteran UGM!!! Tolonglah saya???

Semoga Tulisan sederhana ini bisa membuka mata kita semua.

Share With Me